En Todo Amar y Servir, Dalam Segala Mencintai dan Melayani

Frasa “dalam segala mencintai dan melayani”, atau dalam bahasa Spanyol “en todo amar y servir”, atau dalam bahasa Inggris “in all things to love and to serve” merupakan salah satu istilah kunci untuk memahami dan masuk ke dalam spiritualitas Santo Ignatius Loyola. Ada dua hal penting yang bisa kita renungkan di sini, yaitu tentang pengertian dan makna to love dan juga pengertian dan makna to serve.

 

Mencintai

Kita mulai dengan to love. Setidaknya ada dua hal pokok ketika bicara tentang kata “cinta” ini di dalam Spiritualitas Ignatian.

Pertama, dalam buku Latihan Rohani, yang merupakan buku panduan retret para Jesuit, Ignatius menulis: “Cinta lebih diwujudkan melalui tindakan daripada kata-kata” (LR. 230). Dan kedua, orang yang mengungkapkan cinta itu pasti akan membagikan apa yang dimilikinya kepada orang lain (share what she/he has with others). Kiranya semakin jelas di sini, Santo Ignatius bermaksud mengajak setiap murid Kristus untuk melakukan tindakan cinta. Dan tindakan cinta itu terungkap di dalam saling berbagi apa yang dimiliki kepada yang lain. Cinta itu diarahkan kepada Tuhan dan kepada sesamanya.

Sejak pertobatannya, Ignatius memiliki devosi (rasa bakti) yang kuat dan mendalam, baik kepada Allah maupun kepada kepada Bunda Maria. Sebelum bertobat, Ignatius adalah orang yang ingin mencari kemegahan diri sendiri, mencari ketenaran diri. Semuanya itu berbalik 180 derajat setelah ia jatuh sakit dan merenungkan Kisah Santo-Santo melalui buku-buku rohani yang dibacanya. Ia ingin menjadi suci seperti para Santo-Santa itu. Ia ingin mengabdikan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Allah yang lebih besar dan bagi keselamatan jiwa sesama, Ad Maiorem Dei Gloriam, AMDG.

Cinta bagi Ignatius adalah penyerahan total hidupnya bagi Kristus, berjuang di bawah panji-panji Kristus melawan panji-panji setan. Cinta juga berarti memberikan diri seutuhnya untuk digunakan oleh Kristus bagi penyelamatan umat manusia. Dan cinta itu terwujud dalam bentuk memberikan atau membagikan apa yang dimilikinya kepada orang lain. Ignatius meninggalkan segala-galanya, termasuk meninggalkan kenikmatan duniawi, untuk kemudian secara total menyerahkan hidupnya bagi Kristus. Dia mengalami perubahan radikal dari “orangnya dunia” menjadi “orangnya Kristus”.

Maka sumber kerohanian Ignatius itu adalah pengalaman dan relasi pribadinya yang begitu mendalam dengan Allah Bapa, dengan Kristus, dengan Roh Kudus, dan juga dengan Bunda Maria. Sumber kerohaniannya itulah yang kemudian menggerakkan Ignatius untuk membaktikan seluruh hidupnya bagi pelayanan kepada Gereja dan kepada sesama umat manusia.

 

Melayani

Kini kita mencoba memahami dan mendalami makna kata “melayani” dalam spiritualitas Ignatian. Pengalaman rohani (mistik) yang kuat yang memunculkan spiritualitas pelayanan ini bersumber pada pengalaman Ignatius di La Storta, sebuah kota kecil dekat Roma. Di sebuah kapel di La Storta, Ignatius mendapatkan jawaban atas doa-doanya kepada Bunda Maria selama ini, termasuk doa-doa novenanya, mohon agar ditempatkan bersama Puteranya, “Place me with your Son”.

Ignatius menggambarkan pengalamannya memperoleh penampakan itu dengan kata-kata demikian: “ia mengalami perubahan yang luar biasa di dalam jiwanya dan ia melihat dengan begitu jelas Allah Bapa menempatkannya bersama Kristus PuteraNya, dan ia tidak sedikitpun ragu akan hal itu yaitu bahwa Allah Bapa telah menempatkan dia bersama PuteraNya.”

Dalam penglihatan rohaninya ini, Yesus sedang memanggul salibNya. Allah Bapa menunjuk pada Ignatius dan bersabda: “Aku akan berkenan padamu di Roma.” Lalu Allah Bapa berpaling kepada Yesus yang sedang memanggul salib, dan meminta: “Aku ingin agar Engkau mengambil orang ini untuk melayani Kita.” Dan Yesus, dengan salib di atas bahunya, kemudian memandang Ignatius dan berkata: “Kami ingin agar kamu melayani Kami.” Dan Ignatius siap-sedia untuk memberikan dirinya melayani Allah, memanggul salib bersama Yesus yang memanggul salib.

Boleh dikatakan, itulah pengalaman mendasar yang menjadi sumber mistik pelayanan di dalam Spiritualitas Ignatian. Sebagaimana Bapa mengingini agar Santo Ignatius melayani Mereka, demikian pula kepada kita pun Allah menghendaki agar kita melayani Bapa dan PuteraNya melalui hidup dan karya kita. Tapi dasar utama dari semuanya itu adalah mencintai dan melayani Allah, dengan cara bersama Yesus memanggul salib. Maka spiritualitas Ignatius itu disebut spiritualitas yang aktif, cara hidup rohani yang aktif, yaitu cara menghidupi kerohanian yang berkeringat bahkan berdarah, dan yang mendapatkan perwujudannya di dalam frasa to serve (melayani).

 

Dalam segala

Santo Ignatius orang rohani yang memiliki kedalaman dan keluasan hidup. Ia mudah berdoa di mana saja. Ia mudah menemukan Allah di mana saja. Dan ia pun mudah menemukan Tuhan dalam setiap ciptaan dan setiap peristiwa kehidupan. Singkatnya, Ignatius dengan mudah dapat menemukan Allah dalam segala hal. Di akhir Latihan Rohani, Ignatius mengajak para Jesuit ataupun para peserta retret menerapkan daya-daya inderawi (juga daya-daya jiwa) untuk merasakan dan mengalami Allah yang selalu hadir dan mencintai, terus mencipta dan menyelamatkan. Sesi doa ini dinamakan doa pengenaan panca indera. Dan melalui latihan doa seperti ini yang ditekuni setiap hari, diharapkan orang juga dengan mudah menemukan Tuhan di dalam segala, finding God in all things.

Frasa to love dan to serve dalam perwujudannya selalu berada di dalam relasi dengan yang lain, baik itu relasi dengan Allah, relasi dengan sesama, maupun relasi dengan alam semesta. Bagi Ignatius, mencintai dan melayani itu terungkap lewat pikiran, kata, dan perbuatan. Singkatnya, itu terungkap di dalam segala peri hidupnya. Ketika berdoa, Ignatius melakukannya dengan sangat hormat, karena ia percaya dengan cara itulah ia dapat paling baik mencintai, mengabdi, dan memuliakan Allah. Ketika studi, Ignatius studi dengan keras, karena ia percaya dengan cara itulah ia mencintai dan melayani Allahnya. Ketika berderma, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh, karena ia percaya dengan cara itulah ia mencintai dan melayani Tuhannya. Ia ingin mencintai dan melayani Allah dengan sempurna, dengan segala yang dimilikinya, dengan seluruh daya-daya hidupnya.

Dalam setiap sikap dan tindakan, ia melakukannya sesempurna mungkin, karena ia ingin mempersembahkan seluruh hidup, seluruh budi, seluruh kemerdekaan, dan seluruh yang dimilikinya hanya kepada Allah dalam diri Kristus yang sangat ingin ia cintai, ingin ia ikuti, ingin ia abdi, dan ingin ia layani. Maka di dalam segala, Ignatius hanya ingin mencintai dan melayani Allah semata, demi keselamatan jiwa sesamanya dan akhirnya juga demi keselamatan jiwanya sendiri.

Dalam segala, ia ingin mencintai dan melayani Allah, yang telah mencipta dirinya dan yang telah menebusnya dari dosa-dosanya. Dalam segala, mengabdi dan mencintai: en todo amar y servir.

 

Renungan pribadi dilanjutkan sharing

  1. Dari bacaan tadi, bagian manakah yang paling menyentuh hati Anda? Mengapa hal itu menyentuh? Gerakan batin apa saja yang muncul dalam diri Anda? Apakah jiwa Anda dikobarkan dan disemangati? Bagian mana yang membuat Anda mengalami gerakan batin dan perubahan diri seperti itu?
  2. Apakah Anda merasa digerakkan untuk mempersembahkan seluruh diri Anda dengan mencintai dan melayani Allah dalam diri Yesus Kristus secara lebih total? Apakah tindakan konkrit yang akan Anda lakukan sebagai wujud nyata dari keinginan Anda untuk lebih total mencintai dan melayani Allah tersebut?
  3. Santo Ignatius Loyola menghayati dan mewujudkan “en todo amar y servir” melalui tindakan hidupnya terlebih dahulu, baru kemudian mengajak orang lain untuk melakukannya juga. Apakah Anda memiliki cara hidup seperti itu? Ataukah, Anda lebih suka hanya mengatakan hal-hal baik kepada orang lain sedangkan Anda sendiri tidak melakukannya?
  4. Tujuan hidup Santo Ignatius adalah memuliakan Allah dan menyelamatkan jiwa-jiwa. Sarana, cara atau strategi yang dipakai untuk mencapainya adalah doa dan karya sebagai wujud nyata mencintai dan melayani Allah. Apakah tujuan hidup Anda? Apa saja sarana, cara atau strategi yang Anda pakai untuk mencapai tujuan itu?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

YAYASAN KANISIUS YOGYAKARTA- Jl. Bintaran Kidul No. 7 , Telp. (0274) 373280, e- mail : ykcy1918@yahoo.com | copyright – kanisiusyogyakarta.org 2018, supported by hokinesia